Skip to content

Sinergi Pengelola Perpusdes/TBM dan Relima dalam Gerakan Literasi Aceh Jaya

Penulis: Niswaton Khairiana (Relawan Literasi Masyarakat)

Literasi memiliki peran penting dalam membangun martabat bangsa. Tingkat literasi yang baik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis masyarakat, serta berdampak positif padapertumbuhan ekonomi dan partisipasi pembangunan daerah. Untuk mendukung peningkatan literasi diseluruh Indonesia, Perpustakaan Nasional meluncurkan Program Bantuan 1000 Buku Bermutu kepadaPerpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada tahun 2024.

Di Kabupaten Aceh Jaya, sebanyak 24 Perpustakaan Desa/TBM telah menerima bantuan buku tersebut.Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan, belum semua perpustakaan memanfaatkan buku-bukuitu secara optimal. Untuk itulah, dibentuklah Relawan Literasi Masyarakat (Relima) sebagai upaya pendampingan agar bantuan buku benar-benar berdampak kepada peningkatan literasi masyarakat.Berikut beberapa program yang saya lakukan dalam menjalankan tugas Relima antara lain sebagaiberikut:

1. Inventaris perpustakaan
Pada bulan pertama saya melakukan survey awal untuk memetakan kondisi Perpusdes/TBM penerima buku tersebut. Bersilaturrahmi dengan Dinas Perpustakaan Kabupaten guna mendapatkandata penerima bantuan. Selanjutnya membentuk group WA dengan Pengurus Perpusdes/TBM untukmemudahkan koordinasi dan komunikasi. Setelahnya menyebarkan Google-Form untuk pendataaninventaris meliputi NPP, jumlah anggota perpustakaan dan inventaris lainnya. Selain menggunakangoogle Form saya juga terjun langsung ke Perpusdes/TBM dalam pemetaan Perpustakaan dan surveyKegiatan literasi yang pernah dilakukan, dan kendala masing-masing Perpusdes/TBM yang ada dalamlokus Aceh Jaya. Berdasarkan hasil survey baik secara google form maupun secara langsung terdapatsebanyak 15 Perpusdes/TBM yang belum memiliki NPP, 10 Perpusdes/TBM yang belum memanfaatkanBuku Bermutu, 20 Belum ada Kegiatan rutin literasi.

Setelah mengetahui kondisi di lapangan saya mulai melakukan pendampingan dan melakukan kunjungan lapangan ke beberapa Perpusdes/TBM yang mengalami kesulitan dalam pengelolaan buku,maupun kesulitan dalam menyusun atau menjalankan program kegiatan literasi.

2. Kegiatan Literasi Masyarakat

Selama melakukan pendampingan bersama Penggiat Literasi dan Pengelola Perpustakaan di kab Aceh Jaya, terdapat beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu sebagai berikut:


a. Membaca Nyaring

Membaca nyaring merupakan kegiatan yang paling sederhana namun efektif. Kegiatan ini hanyamembutuhkan 3 komponen utama yaitu pembaca, buku fisik dan pendengar. Kegiatan ini memberikandampak yang cukup baik dalam menarik minat anak terhadap buku. Banyak dari anak-anak yang senangketika dibaca nyaring dan berinteraksi dengan cukup baik saat dilakukan membaca nyaring.

b. Literasi Berbasis Bermain

Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan di antaranya: Kolase Gambar Kegiatan ini dimulai denganmembacakan nyaring buku BBB selanjutnya membagikan gambar yang sesuai dengan karakter bukuyang dibaca. Kemudian anak-anak menyusun kolase dengan warna yang sesuai. Selain itu kami jugamembuat kegiatan mewarnai sesuai dengan buku yang dibaca dan bermain ular tangga. Sebelumbermain ular tangga, pengelola membacakan buku sebanyak 5 buku cerita pendek/BBB, saat merekamendapatkan angka anak tangga maka akan diberi pertanyaan sesuai dengan isi buku. Jika tidak bisamenjawab maka dia tidak diperkenankan naik ular Tangga.

c. Inklusi Sosial

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas dan juga pendapatan masyarakat melaluiperpustakaan. Kami mengadakan kegiatan pelatihan membuat tas dari kanvas untuk selanjutnya dapatdijual kepada masyarakat luas. Selain itu tas hasil pembinaan kami juga dipajang pada kegiatan FestivalLiterasi Kabupaten Aceh Jaya.

d. Resensi Buku

Setelah membaca dan menulis resensi buku, selanjutnya dilakukan diskusi buku secara lebih mendalam. Menyampaikan pendapat dan tanggapan terhadap buku, menanyakan hal-hal yang kurang dipahami, membandingkan pendapat antar pembaca dan menarik kesimpulan bersama mengenai pesan dari bukutersebut.

Melalui program pendampingan ini telah terjadi perubahan positif di beberapa perpustakaan.Beberapa perpustakaan telah memulai membuka layanan baca regular, terdapat kegiatan rutin sepertimembaca nyaring, literasi berbasis bermain dan diskusi buku. Selain itu pengelola termotivasi untukmengurus NPP dan belajar manajemen perpustakaan dasar dan juga terbangunnya jejaring komunikasiantar perpustakaan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.

Adapun tantangan yang dihadapi oleh perpusdes/TBM di Kabupaten Aceh Jaya adalah minimnyasumberdaya manusia pengelola perpustakaan sehingga perpustakaan sering tutup dan tidak dapatberoperasi. Kurangnya fasilitas pendukung seperti laptop (untuk Pemetaan buku di aplikasi inlislite).Lokasi yang kurang mendukung, beberapa perpustakaan disimpan di balai desa yang terlalu terbukasehingga tidak dapat terkontrol dengan baik.

Menjadi Relima adalah sebuah kehormatan dan tanggungjawab yang besar dalam mendukungupaya meningkatkan literasi masyarakat. Praktik baik ini merupakan langkah awal yang kecil namunberdampak untuk mendukung perkembangan literasi di kabupaten Aceh Jaya. Saya berharap praktikbaik ini dapat diterapkan juga di daerah lain dan mendorong kesadaran bahwa literasi bukan hanyatanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat secara luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *