Pada tahun 2024, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melaksanakan Program Bantuan Bahan Bacaan Bermutu dengan memberikan bantuan sebanyak 10 juta buku kepada 10.000 perpustakaan Desa/Kelurahan dan Taman Baca Masyarakat (TBM). Setiap penerima memperoleh sebanyak 1.000 buku dan satu rak. Program tersebut merupakan langkah penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Namun, bertambahnya jumlah koleksi buku sekaligus menghadirkan tantangan baru: Bagaimana memastikan buku-buku tersebut benar-benar dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya anak-anak?
Persoalan inilah yang menjadi salah satu titik awal saya mengembangkan inovasi “Drama Visualisasi Buku”. Sebagai relawan literasi, saya melihat bahwa menyediakan buku merupakan langkah awal, tetapi belum menjadi jaminan bahwa anak-anak tertarik membaca. Anak-anak memiliki karakter yang aktif, senang bermain, berimajinasi, bergerak, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Karena itu, pendekatan literasi perlu disesuaikan dengan karakter tersebut. Drama visualisasi buku adalah sebuah pendekatan untuk mengubah aktivitas membaca yang bersifat pasif menjadi pengalaman literasi yang aktif dan kreatif.
Dalam inovasi ini, anak tidak hanya membaca buku. Mereka membaca dan memahami cerita, mengenali tokoh, menentukan peran, membuat kostum atau properti sederhana dari bahan yang tersedia, kemudian memvisualisasikan cerita melalui drama.
Dengan demikian, buku yang sebelumnya hanya menjadi koleksi di rak diubah menjadi sumber aktivitas, interaksi, dan pengalaman belajar anak. Inovasi ini dilaksanakan di TBM Aneuk Meuh Jaya Kabupaten Aceh Jaya, pada tanggal 9 Juli 2026, dengan melibatkan anak-anak, pengelola TBM dan dukungan orang tua. Yang menjadi pembeda utama inovasi ini bukan pada keberadaan buku bantuannya, karena TBM atau perpustakaan desa lain juga dapat menerima bantuan buku dalam julah yang sama. Kebaruan terletak pada cara memanfaatkan koleksi tersebut melalui rangkaian membaca, memahami, membuat, dan memerankan cerita sehingga buku menjadi lebih dekat dengan anak.
Dengan pendekatan tersebut, Drama Visualisasi Buku diharapkan tidak hanya meningkatkan ketertarikan anak terhadap bacaan, tetapi juga mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, keberanian tampil, kemampuan berkomunikasi dan daya imajinasi. Lebih jauh karena metode ini tidak membutuhkan teknologi tinggi maupun biaya besar, inovasi tersebut memilik peluang untuk direplikasi oleh TBM dan perpustakaan desa lainnya yang memiliki koleksi buku, termasuk penerima Bantuan Bahan Bacaan Bermutu, dengan menyesuaikan cerita dan karakter budaya lokal masing-masing.